Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Motivasi Kerja
Pendahuluan
Motivasi kerja merupakan daya dorong yang memunculkan dan mengarahkan perilaku pada suatu perbuatan atau pekerjaan pada upaya nyata untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.. Motivasi kerja dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal yang memengaruhi motivasi kerja salah satunya adalah stres kerja. Stres kerja merupakan beban akibat pekerjaan dan lingkungan kerja. Stres kerja dapat mempengaruhi kondisi mental, fisik dan proses berfikir. Faktor internal yang memiliki pengaruh terhadap motivasi kerja adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali emosi diri dan orang lain, dan menggunakan kemampuan ini untuk memotivasi diri dan berhubungan dengan orang lain.
Definisi Kecerdasan Emosional
Apa itu kecerdasan emosi? Menurut Wikipedia, Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.
Mengapa begitu penting? Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, masihkah berharap bahwa keputusan dan tindakan kita juga baik?
Dari berbagai
literatur, saya menemukan ada 5 dasar kecerdasan emosional. Kelima dasar itu
adalah
1. Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam
hidup Anda.
2. Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi
negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.
3. Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.
4. Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang
mereka rasakan.
5. Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi
yang tersirat
Model Kecerdasan Emosional
Menurut The
Encyclopedia of Applied Psychology (dalam Chandra, 2010) terdapat tiga model
kecerdasan emosional, yaitu:
a. The Salovey-Mayer ModelKemampuan yang
utama dalam model ini adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, mengelola,
dan menggunakan emosi untuk menjembatani pemikiran yang diukur dengan ukuran
yang didasarkan pada kemampuan.
b. The Goleman Model
Model Goleman
merupakan kesatuan antara berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang
merangsang kemampuan manajeral dan diukur menggunakan penilaian nilai ganda.
c. The Bar-On Model
Merupakan perpaduan antara kompetensi, keterampilan, dan fasilitator yang mempengaruhi perilaku cerdas yang dikur berdasarkan laporan diri dalam suatu pendekatan multi modal, termasuk wawancara dan penilaian nilai ganda.
Kecerdasan emosional pada saat ini menjadi perhatian tersendiri dari para ahli dan praktisi pendidikan, karena kecerdasan emosional juga diyakini sebagai salah satu faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pembelajaran, disamping IQ. Perbedaan tingkat kecerdasan emosional siswa, diyakini sangat berpengaruh terhadap perbedaan siswa dalam cara memecahkan permasalahan dalam belajar, terutama yang menyangkut tentang permasalahan dalam pengendalian diri, semangat, ketekunan, serta kemampuan dalam memotivasi diri sendiri. Dapat dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosional siswa berpengaruh dominan terhadap kondisi siswa dalam belajar.
Mayer (2001: 33) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai sekelompok kemampuan mental yang membantu anda mengenali dan memahami perasaan-perasaan anda dan perasaan orang lain, yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan anda. Ada dua sisi kecerdasan emosional yaitu memerlukan kepandaian anda untuk memahami emosi, dan memerlukan pikiran emosional (perasaan) anda untuk menambahkan kreativitas dan intuisi pada pikiran logis anda.
Goleman (1995: 214) kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkannya (the appropriateness of emotion and itsexpression) melalui keterampilan kesadaran diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Apabila individu mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi, maka akan melahirkan kepekaan sosial yang tinggi, dan memiliki kemampuan menyesuaikan diri dalam segala bentuk kondisi.
Tidak banyak sekolah yang mencoba untuk melakukan tes kecerdasan emosional pada mahasiswanya. Banyak sekolah yang hanya terfokus mengukur intelligence mahasiswa, sedangkan pengukuran terhadap kecerdasan emosional mahasiswa sering diabaikan .
jadi, Pengertian kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Definisi Motivasi Kerja
Motivasi merupakan suatu proses
dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian
kegiatan yang mengarah ketercapainya tujuan tertentu, jika brrhasil dicapai,
akan memuaskan atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut (Munandar, 2010).
Motivasi merupakan pemberian atau penimbulan motif, dan hal atau keadaan yang
menimbulkan motif, jadi motivasi kerja merupakan sesuatu yang menimbulkan
semangat atau dorongan kerja, dimana kuat atau lemahnya motivasi kerja seorang
tenaga kerja ikut menentukan besar kecil prestasi (Wexley dan Yukl dalam As’ad,
2002).
Motivasi adalah karakteristik psikologis pada aktifitas manusia untuk memberi
kontribusi berupa tingkat komitmen seseorang termasuk faktor-faktor yang
menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah
tekad tertentu untuk mencapai keinginan. Aktifitas yang dilakukan adalah
aktifitas yang bertujuan agar terpenuhi keinginan individu. Menurut Siagian
(2011), mendefinisikan motivasi kerja sebagai daya dorong bagi seseorang untuk
memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya demi keberhasilan organisasi
mencapai tujuannya, dengan pengertian bahwa tercapainya tujuan organisasi
berarti tercapai pula tujuan pribadi para anggota organisasi yang bersangkutan.
Sementara Robbins (2008) mengatakan motivasi kerja sebagai kesediaan untuk
mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan–tujuan organisasi, yang
dikondisikan oleh kemampuan upaya tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan
individu.
Motivasi kerja merupakan suatu modal dalam menggerakkan dan mengarahkan para
karyawan atau pekerja agar dapat melaksanakan tugasnya masing–masing dalam
mencapai sasaran dengan penuh kesadaran, kegairahan dan bertanggung jawab
(Hasibuan, 2008).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah suatu
daya penggerak yang mampu menciptakan kegairahan kerja dengan membangkitkan,
mengarahkan, dan berperilaku kerja serta mengeluarkan tingkat upaya untuk
memberikan kontribusi yang sebesar besarnya demi keberhasilan organisasi dalam
mencapai tujuannya.
Faktor yang mempengaruhi motivasi kerja
Menurut Siagian faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang dapat diketahui berdasarkan karakteristik dari individu yang bersifat khas yang terdiri dari delapan faktor yaitu:
a. Karakteristik biografi yang meliputi:
1) Usia,
hal ini penting karena usia mempunyai kaitan yang erat dengan berbagai segi
kehidupan organisasional. Misalnya kaitan usia dengan tingkat kedewasaan teknis
yaitu ketrampilan tugas.
2) Jenis kelamin, karena jelas bahwa implikasi jenis kelamin para pekerja
merupakan hal yang perlu mendapat perhatian secara wajar dengan demikian
perlakuan terhadap merekapun dapat disesuaikan sedemikian rupa sehingga mereka
menjadi anggota organisasi yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
3) Status perkawinan, dengan status ini secara tidak langsung dapat memberikan
petunjuk cara, dan teknik motivasi yang cocok digunakan bagi para pegawai yang
telah menikah dibandingkan dengan pegawai yang belum menikah.
4) Jumlah tanggungan, dalam hal ini jumlah tanggungan seorang seorang pencari
nafkah utama keluarga adalah semua orang yang biaya hidupnya tergantung pada
pencari nafkah utama tersebut, tidak terbatas hanya pada istri atau suami dan
anak–anaknya.
5) Masa kerja, dalam organisasi perlu diketahui masa kerja seseorang karena
masa kerja seseorang merupakan satu indikator kecenderungan para pekerja dalam
berbagai segi organisasional seperti ; produktivitas kerja dan daftar
kehadiran. Semakin lama seseorang bekerja ada kemungkinan untuk mereka mangkir
atau tidak masuk kerja disebabkan karena kejenuhan.
b. Kepribadian
Kepribadian seseorang juga dapat dipengaruhi motivasi kerja seseorang karena kepribadian sebagai keseluruhan cara yang digunakan oleh seseorang untuk bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.
c. Persepsi
Interpretasi seseorang tentang kesan sensorinya mengenai lingkungan sekitarnya akan sangat berpengaruh pada perilaku yang pada gilirannya menentukan faktor-faktor yang dipandangnya sebagai faktor organisasional yang kuat.
d. Kemampuan belajar
Belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan tidak terbatas pada pendidikan formal yang ditempuh seseorang diberbagai tingkat lembaga pendidikan. Salah satu bentuk nyata dari telah belajarnya seseorang adalah perubahan dalam persepsi, perubahan dalam kemauan, dan perubahan dalam tindakan.
e. Nilai-nilai yang dianut
Sistem nilai pribadi seseorang biasanya dikaitkan dengan sistem nilai sosial yang berlaku di berbagai jenis masyarakat dimana seseorang menjadi anggota.
f. Sikap
Sikap merupakan suatu pernyataan evaluatif seseorang terhadap objek tertentu, orang tertentu atau peristiwa tertentu. Artinya sikap merupakan pencerminan perasaan seseorang terhadap sesuatu.
g. Kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah sikap umum seseorang yang positif terhadap kehidupan organisasionalnya.
h. Kemampuan
Kemampuan
dapat digolongkan atas dua jenis yaitu kemampuan fisik dan kemampuan
intelektual. Kemampuan fisik meliputi kemampuan seseorang dalam menyelesaikan
tugas–tugas yang bersifat teknis, mekanistik dan repetatif, sedangkan kemampuan
intelektual meliputi cara berfikir dalam menghadapi masalah.
Menurut teori kaitan imbalan dengan prestasi (Siagian, 2011), motivasi seorang
karyawan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang internal
maupun eksternal, sebagai berikut:
a. Faktor internal yaitu faktor yang timbul dari dalam diri karyawan antara
lain: persepsi, harga diri, harapan pribadi, kebutuhan, keinginan, kepuasan
kerja, prestasi kerja yang dihasilkan.
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang timbul dari luar diri karyawan antara
lain: jenis dan sifat pekerjaan, kelompok kerja dimana seseorang bergabung,
organisasi tempat bekerja, situasi lingkungan pada umumnya, sistem imbalan yang
berlaku dan cara penerapannya.
Interaksi positif antara kedua kelompok tersebut pada umumnya menghasilkan
tingkat motivasi yang tinggi. Menurut Herzberg (dalam Munandar, 2010), bahwa
karyawan termotivasi untuk bekerja disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
a. Faktor intrinsik yaitu faktor daya dorong yang timbul dari dalam diri
masing–karyawan, berupa:
1) Pekerjaan itu sendiri (the work it self)
Berat ringannya tantangan yang dirasakan tenaga kerja dari pekerjaannya.
2) Kemajuan (advancement)
Besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja berpeluang maju dalam pekerjaannya
seperti naik pangkat.
3) Tanggung jawab (responsibility)
Besar kecilnya yang dirasakan terhadap tanggung jawab diberikan kepada seorang
tenaga kerja.
4) Pengakuan (recognition)
Besar kecilnya pengakuan yang diberikan kepada tenaga kerja atas hasil kerja.
5) Pencapaian (achievement)
Besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja mencapai prestasi kerja tinggi.
b. Faktor ekstrinsik yaitu faktor pendorong yang datang dari luar diri
seseorang terutama dari organisasi tempatnya bekerja. Faktor ekstrinsik ini
mencakup :
1) Administrasi dan kebijakan perusahaan
Tingkat kesesuaian yang dirasakan tenaga kerja terhadap semua kebijakan dan
peraturan yang berlaku dalam perusahaan.
2) Penyeliaan
Tingkat kewajaran penyelia dirasakan yang oleh tenaga kerja
3) Gaji
kewajaran gaji yang diterima sebagai imbalan terhadap tugas pekerjaan.
4) Hubungan antar pribadi
Tingkat kesesuaian yang dirasakan dalam berinteraksi antar tenaga kerja lain.
5) Kondisi kerja
Tingkat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksanaan tugas
pekerjaan–pekerjaannya.
Apabila faktor intrinsik tersebut ada, dapat memberi tingkat motivasi yang kuat
dan kepuasan dalam diri seseorang, namun jika faktor ini tidak ada, maka
menimbulkan rasa ketidakpuasan. Sementara faktor ekstrinsik tersebut ada, tidak
perlu memberi motivasi, tetapi jika tidak ada dapat menimbulkan tidak puas.
Menurut Rowland & Rowland (dalam Nursalam, 2002), dalam meningkatkan
kepuasan karyawan didasarkan pada faktor-faktor motivasi, yang meliputi:
- Keinginan untuk peningkatan.
- Percaya bahwa gaji yang didapat sudah mencukupi
- Memiliki kemampuan pengetahuan, keterampilan dan nilai–nilai yang diperlukan.
- Umpan balik.
Cara meningkatkan motivasi kerja
Ada dua cara pokok seorang pemimpin untuk meningkatkan motivasi kerja (Munandar, 2010), yaitu:
a. Bekerja keras
Dengan memaksakan tenaga kerja untuk bekerja keras
atau dengan memberikan ancaman, dapat membuat tenaga kerja, kalau tidak dapat menghindarkan
diri dari situasi yang mengancam tersebut, akan bekerja keras. Misalnya atasan
ingin menegakkan disiplin kerja sehingga menuntuk bawahannya datang tepat waktu
dan tampak selama jam-jam kerja terus melaksanakan tugas mereka sampai
berakhirnya jam kerja mereka, serta mengancam akan menghukum mereka yang sekian
kali tidak datang tepat pada waktunya, atau yang tampak malas pada
pekerjaannya. Jika bawahan merasa tidak dapat keluar dari perusahaannya (karena
banyak penangguran sehingga sulit sekali mendapatkan pekerjaan baru), maka ia
akan berusaha akan selalu datang tepat pada waktunya dan akan tampak bekerja
selama jam-jam kerja.
b. Memberi tujuan yang bermakna
Bersama-sam dengan tenaga kerja yang bersangkutan ditemukan tujuan-tujuan yang bermakna, sesuai dengan kemampuannya, yang dapat dicapai melalui prestasi kerjanya yang tinggi. Misalnya tenaga kerja mengharapkan mampu mencicil rumah untuk dirinya setelah bekerja lima tahun pada perusahaan. Cicilan setiap bulannya tidak memberatkannya dan akan selesai dalam 10 tahun. Jika kebijakan perusahaan memungkinkan, maka ia akan bekerja dengan motivasi kerja yang tinggi
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Motivasi kerja
Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.
Kecerdasan emosi mengacu pada kemampuan untuk mengenali makna-makna emosi dan hubungan-hubungannya, serta menggunakannya sebagai dasar penalaran dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, emosi digunakan untuk meningkatkan aktivitas kognitif.
Pentingnya kecerdasan emosional adalah bagaimana kita dapat mengolah emosi dengan baik, dengan pengolahan emosi yang baik akan berpengaruh terhadap lingkungan kita, cara kita bersosialisasi dengan orang lain dan berpengaruh juga terhadap pandangan orang lain terhadap kita
jadi menurut saya, kecerdasan emosional itu sangat penting karena kita harus tau tempat dimana dan kapan juga dengan siapa kita akan melakukan interaksi emosional. menurut pengalaman pribadi saya orang yang emosional itu jarang disukai oleh orang lain, mereka cenderung dijauhkan dan sulit memiliki teman apalagi lingkaran pertemanan
sedangkan orang yang dapat mengotrol emosinya dengan baik dia lebih banyak memiliki lingkarang pertemanan karena mudah bergaul dan mudah menerima saran dan masukan orang lain.
dilingkungan pekerjaan orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik juga cenderung memiliki kualitas kerja yang bagus dan dapat diandalkan.
itu sebabnya menurut saya kecerdasan emosinal itu memang sangat penting di bandingkan skill sendiri.
kecerdasan emosional yang tinggi dan stres kerja yang rendah akan secara otomatis menghasilkan taraf motivasi kerja yang tinggi tingkat kecerdasan emosional yang tinggi akan meningkatkan motivasi kerja bekerja sedangkan tingkat stres kerja yang tinggi akan menurunkan tingkat motivasi kerja pada perempuan kerja.
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa Kecerdasan emosional dan stres kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap motivasi kerja
kecerdasan emosional kini semakin dicari dalam dunia kerja. Manajemen human resources (HR) tidak lagi hanya memperhatikan kecerdasan teknis kandidat, namun juga mempertimbangkan kecerdasan emosional para kandidat pekerja dengan serius. Untuk seorang pencari kerja atau pekerja pun kebutuhan untuk kecerdasan emosional ini kadang melebihi kebutuhan untuk kecerdasan yang biasa dinilai dengan intelligence quotient (IQ). Hal ini dikarenakan banyak orang setuju bahwa dengan IQ seseorang dapat menggapai pekerjaan yang ia inginkan, namun dengan EQ lah jenjang karir dapat ditingkatkan.
Walaupun keputusan-keputusan yang diambil orang pastinya memiliki pertimbangan rasional, setiap keputusan juga akan dipengaruhi oleh emosi masing-masing individu. Nah, tentunya hal tersebut membuat interaksi antara satu orang dengan yang lain lebih kompleks. Semakin beragam latar belakang tiap pekerja, semakin kompleks pula interaksi yang ada. Karena itulah semakin berguna juga kecerdasan emosional dalam tempat kerja.
Dengan kecerdasan emosional yang tinggi, orang-orang dapat menyelaraskan dan menyesuaikan diri dengan lebih baik dalam tim. Selain mampu memahami satu sama lain mengenai apa yang dibutuhkan, dengan kecerdasan emosional, orang-orang juga dapat menanggapi, mengevaluasi, dan mencari solusi untuk berbagai macam hal dengan lebih baik. Karena itulah, bisa dibilang kecerdasan emosional di tempat kerja akan mempermudah segalanya.
Kecerdasan emosional jelas akan mempengaruhi performa Anda di kantor. Ciri utama dari orang yang memilikinya adalah kemampuannya untuk melihat sisi positif dari berbagai kejadian dan pengalaman, meski tidak menyenangkan. Mereka yang cerdas secara emosi bukannya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi karena mampu mengelola perasaan dan emosi, feedback negatif dari bos pun malah jadi motivasi tersendiri untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Baper tidak salah kok. Tentu tidak ada orang yang selalu 100% senang dan siap mendengar kritikan pedas. Namun jangan sampai memakan waktu terlalu lama. Di sini kedewasaan Anda akan berperan penting untuk memahami bahwa kegagalan juga bagian dari proses bekerja. Lebih baik fokus memperbaiki, bukan?
Kelebihan lain dari mereka yang ber-EQ tinggi adalah pandai dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini bakal berguna banget dalam membangun relasi dan chemistry dengan sesama rekan kerja. Cerdas secara intelektual sesuai bidang pekerjaan akan membuat Anda cakap dalam bekerja. Namun dunia kerja bukan tentang Anda dan job description saja, melainkan penuh dengan interaksi sosial. Anda harus mampu bekerja dalam tim, bernegosiasi, mengemukakan pendapat, dan berkomunikasi dengan bijak. Dalam hal-hal seperti inilah kecerdasan emosional berperan.
Selain itu, orang-orang dengan kecerdasan emosional umumnya bersikap asertif. Mereka mampu bersikap tegas tanpa melukai perasaan orang lain pun mampu membimbing tanpa menggurui. Bagi seorang leader, sikap seperti ini tentu diperlukan.
Melihat pengaruh kecerdasan dalam bekerja, tak heran psikolog sekaligus penulis buku “Emotional Intelligence and Social Intelligence: The New Science of Human Relationships”, dr. Daniel Goleman berpendapat bahwa 80% kesuksesan seseorang bergantung pada EQ, sedangkan IQ hanya menyumbang 20%.
Ada 5 Karakteristik Utama dalam Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence yang Diperlukan di Dunia Kerja.
Setelah kita ketahui bersama-sama bahwa kecerdasan emosional atau emotional intelligence adalah atribut yang sangat penting untuk dimiliki oleh semua orang di dalam dunia kerja. Menurut website entrepreneur, ada 5 karakteristik utama dalam kecerdasan emosional atau emotional intelligence yang sangat diperlukan di dunia kerja.
1. Kesadaran Diri atau Self-Awareness
Kami menempatkan kesadaran diri sebagai karakteristik utama yang perlu dimiliki oleh setiap orang untuk mempunyai kecerdasan emosional atau emotional intelligence yang tinggi dan matang. Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak akan pernah bisa memahami bahwa orang-orang disekitarnya memiliki sifat dan sikap yang berbeda dengan dirinya.
2. Motivasi
Ketika seseorang sudah memiliki kesadaran diri yang baik, dia akan membentuk motivasi diri yang kuat untuk bisa memproses kecerdasan emosional yang diperlukan. Mereka akan menjadi orang-orang yang termotivasi untuk memberikan hasil yang berkualitas bagi kesuksesan mereka di masa kini dan jangka panjang.
3. Empati
Empati juga menjadi karakteristik utama yang harus dimiliki ketika seseorang ingin membentuk kecerdasan emosional atau emotional intelligence yang tinggi. Dengan berempati, kita akan selalu berusaha untuk mengidentifikasi sisi emosional yang dimiliki orang lain.
4. Pengaturan Diri
Pengaturan diri ini akan membantu seseorang untuk berpikir, mudah beradaptasi dengan perubahan, menjadi tulus dan penuh perhatian.
5. Keterampilan Sosial
Karakteristik kelima untuk memiliki kecerdasan emosional atau emotional intelligence yang baik adalah keterampilan sosial. Keterampilan sosial meliputi keterampilan yang ditujukan langsung kepada lingkungan sosial kita, terutama rekan-rekan kerja, pemimpin, karyawan, mitra bisnis, klien, bahkan pelanggan.
References
https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/view/57788
https://anjanimw-pancasaktiuniversity.blogspot.com/2020/11/emotional-intellegent.html
https://anjanimw-pancasaktiuniversity.blogspot.com/2020/11/pentingnya-kecerdasan-emotional.html
https://midtrans.com/id/blog/memahami-kecerdasan-emosional-di-tempat-kerja
https://www.frisianflag.com/karir/artikel/pengaruh-kecerdasan-emosional-dalam-bekerja
https://www.studilmu.com/blogs/details/kecerdasan-emosional-keterampilan-penting-di-dunia-kerja
(Di akses pada 09 Januari 2021)
Comments
Post a Comment