Ujian Akhir Semester Emotional Intellegent
Pengaruh kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar PAI
Anjani MW
Universitas Panca Sakti Bekasi
anjanimwups@gmail.com
ABSTRACT
ABSTRAK
Emotional intelligence greatly influences the attitudes and behavior of students in their lives, but most educational programs only focus on intelligence or intellectual intelligence, even though what is really needed is how to develop intelligence such as resilience, initiative, optimism, adaptability which has now become the basis of new products. So by examining this emotional intelligence, it is hoped that a good understanding can be understood as an important part of the learning process, and to realize the expected learning achievement. This paper is made from various research references to understand emotional intelligence on the learning outcomes of Islamic religious education which are expected to be useful for many people
Kecerdasan emosional sangat mempengaruhi sikap dan perilaku siswa dalam kehidupannya, akan tetapi kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal atau intelektual saja, padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati seperti ketangguhan, inisiatif, optimis, kemampuan beradaptasi yang kini telah menjadi dasar penilaian baru. Sehingga dengan mengkaji kecerdasan emosional ini, diharapkan dapat mendapatkan pemahaman yang baik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran, dan untuk mewujudkan prestasi belajar yang diharapkan.makalah ini dibuat dari berbagai referensi penelitian untuk memahami pengaruh kecerdasan emosional terhadap hasil belajar pendidikan agama islam yang diharapkan dapat bermanfaat untuk banyak orang.
PENDAHULUAN
Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Banyak faktor yang dapat menentukan kualitas hasil belajar, baik faktor internal maupun eksternal saling mempengaruhi dalam proses belajar individu. Faktor internal meliputi fisik dan psikis (motivasi, bakat, minat, dan tingkat kecerdasan), dan faktor eksternal diantaranya adalah lingkungan sosial dan lingkungan alam. Salah satu faktor internal yang sangat berpengaruh ialah tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Belakangan ini semakin banyak kajian yang menyorot secara kritis pentingnya peran kecerdasan emosional dalam mewujudkan
keberhasilan pendidikan. Pandangan sebelumnya yang menempatkan kecerdasan intelektual sebagai satu-satunya penentu keberhasilan seseorang semakin bergeser pada pandangan yang melihat adanya kecerdasan-kecerdasan lain yang juga tidak kalah penting dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Kecerdasan emosional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa untuk mengenali serta mengelola emosi diri dan orang lain, momotivasi diri, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain. Kecerdasan emosional sangat mempengaruhi sikap dan perilaku siswa dalam kehidupannya, akan tetapi kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal atau intelektual saja, padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati seperti ketangguhan, inisiatif, optimis, kemampuan beradaptasi yang kini telah menjadi dasar penilaian baru (Agustian, 2001: 56).
Sering jumpai siswa yang mempunyai kecerdasan intelektual tinggi tapi memperoleh prestasi belajar yang rendah, namun ada siswa yang memiliki kecerdasan intelektual relatif rendah,dapat meraih prestasi belajar yang tinggi. Seorang siswa dalam proses pembelajaran akan sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya. Karena jika siswa dapat mengendalikan dirinya dan tidak terganggu dengan lingkungan sekitarnya, maka ia akan berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang diajarkan dan akan memunculkan kecenderungan untuk memperhatikan. Sehingga dengan mengkaji kecerdasan emosional ini, diharapkan dapat mendapatkan pemahaman yang baik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran, dan untuk mewujudkan prestasi belajar yang diharapkan.
digital.library.ump.ac.id //Pengaruh Kecerdasan Emosional (EQ) Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII di Smp Negeri 2 Purwokerto
(Diakses pada 16 Januari 2020)
KAJIAN TEORI
1. Kecerdasan Emosional/Emotional Quotient (EQ)
Istilah EQ (Kecerdasan Emosional) pertama kali dilontarkan oleh Salovey dan Mayer, namun konsep EQ dipopulerkan oleh Goleman pada tahun 1995. Jordan mengemukakan bahwa kecerdasan emosional memegang peranan penting untuk memprediksi kinerja suatum tim. Segal mengatakan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan, dimana wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antarpribadi. EQ bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial. Sementara itu, Reuven Bar-On menjabarkan EQ ini ke dalam lima domain yang terdiri dari domain intrapribadi, antar pribadi, pengendalian stres, penyesuaian diri, dan suasana hati umum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa EQ adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan pribadi dan kemampuan social
Menurut penelitian Daniel Goleman seorang psikolog dari Harvard menunjukkan bahwa manusia mempunyai suatu jenis potensi dasar yang lain, yaitu kecerdasan emosional. Menurut pendapatnya bahwa kecerdasan akan dapat secara efektif apabila seorang mampu memfungsikan kecerdasan emosinya. Kecerdasan emosional dapat dilatih, dipelajari, dan dikembangkan pada masa kanak-kanak, sehingga masih ada peluang untuk menumbuhkembangkan dan meningkatkannya untuk memberikan sumbangan bagi sukses hidup seseorang.
Menurut Goleman kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage ouremotional life with intellegence), menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and it’sexpression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.14 Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: lingkungan, keluarga, dan faktor kematangan.
Salovey dan Meyer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial pada orang lain, memilah – milah dan menggunakan informasi untuk membimbing pikiran dan tindakan. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah – ubah setiap saat. Peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan dari keterampilan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik tingkatan konseptual maupun didunia nyata. Selain itu EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Dari uraian di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa pada prinsipnya setiap komponen pembangunan kecerdasan emosional adalah lingkungan dan pengalaman. Jika ditarik kesimpulan dalam dunia pendidikan, maka diantarannya anak dapat dididik, dilatih, dan senantiasa diperkaya pengalamannya dalam berbagai suasana emosi. Membangun kesadaran tentang sikap moral mentalitas, menyatunya kata dan perbuatan, melalui pembelajaran yang baik dan benar. Sehingga peserta didik tidak hanya cerdas dalam berfikir, tetapi juga bersifatcerdas emosi dan cerdas budi, kreatif, dan istiqamah
core.ac.uk // upaya guru PAI dalam peningkatkan kecerdasan emosional
(Diakses pada 16 Januari 2020)
2. Hasil Belajar
Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas, yang dimaksud adalah tidak sebatas memiliki keterampilan(skill) namun lebih dari itu, yaitu lebih paham secara mendetail sehingga benar-benar menguasainya. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas itu adalah dari stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolaahan informasi, menajdi kapabilitas baru.
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interkasi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotir.
Perubahan yang terjadi itu akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh individu adalah hasil dari proses belajar. Jadi untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk “perubahan” harus melalui proses tertentu yng dipengaruhi olah faktor dari dalam individu dan dari luar individu. Proses di sini tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis. Kecuali bila seseorang telah berhasil dalam belajar. Oleh karena itu, proses belajar yang telah terjadi pada seseorang dapat disimpulkan dari hasilnya. Misalnya, dari tidah tahu, menjadi tahu, dair tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak berilmu menjadi berilmu dan sebagianya.
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar , manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. Kita pun hidup menurut hidup dan bekerja menurut apa yang telah kita pelajari. Belajar itu bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah proses, dan bukan suatu hasil. Karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.
Berpikir merupakan bagian dalam proses belajar. Menurut Abror, berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan yang disertai dengan sikap pasif dari subjek yang berpikir. Tetapi menurut Garret, berpikir adalah tigkah laku yang sering implisi dan tersembunyi dan biasanya dengan menggunakan simbol-simbol (gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan konsep konsep). Tingkah laku serupa itu tidak terbats pada “jiwa”, tetapi bisa melibatkan seluruh tubuh. Disini harus diakui bahwa berpikir merupakan kegiatan mental yang bersifat pribadi.
Proses belajar itu berbeda dengan proses kematangan. Kematangan adalah proses dimana tingkah laku dimodifikasi sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan struktur serta fungsi-fungsi jasmani. Dengan demikian tidak setiap perubahan tingkah laku pada diri individu adalah merupakan hasil belajar.
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merenccanakan) dan evaluation (menilai). Doamian afektif adalah receiving (sikap penerimaan), responding (memberikan respon), valuing (menilai), organization (organisasi), characterization (krakterisasi). Doamin Psikomotor meliputi initiatory, pre-routine dan rountinized.
Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar dan setiap orang mempunyai pandngan yang berbeda tentang belajar. Perbedaan pendapat orang tentang belajar itu disebabkan karena adanya kenyataan, bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam-macam. Banyak jenis kegiatan yang oleh kebanyakan orang dapat disepakati sebagai perbuatan belajar misalnya menirukan ucapan kalimat, mengumpulkan perbendaharaan kat, mengumpulkan fakta-fakta, menghafalkan lagu, menghitung dan mengerjakan soal-soal dan sebagainya. Tidak semua kegiatan dapat tergolong kegiatan belajar misalnya melamun, marah manikmati hiburan dan sejenisnya.
Perubahan yang terjadi dalam diri individu dalam proses belajar banyak sekali jenisnya, karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam artian belajar. Perubahan karena kondisi keadaan fisik , aspek-aspek kematangan, pertumbuhan tidak masuk perubahan dalam pengertian belajar.
Menurut Gagne, belajar adalah interaksi antara “keadaan internal dan proses kognitif siswa” dengan “ stimulus dari lingkungan”. Proses kognitif tersenut menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil belajar tersenut terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik dan sikap.
Hasil belajar ini diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian di tandai dengan skala nilai berupa kata atau huruf atau simbol40. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, dapat penulis simpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran serta bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang dengan melibatkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
dspace.uii.ac.id// Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar
(Diakses pada 16 Januari 2020)
3. Peranan dan Tugas Guru PAI
a. Peranan Guru
Seorang guru dalam melaksanakan aktivitas keguruannya memiliki banyak peran yang harus dilaksanakan. Diantaranya dalam kegiatan belajar mengajar dimana seorang guru sangat memiliki pengaruh yang besar sekaliterhadap keberhasilan kegiatan belajar mengajar,agar tujuan pendidikan dapat terwujud dengan baik. Menurut Drs. M. Uzer Usman, perasan guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah“Terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan peserta didik menjadi tujuannya.” Peranan guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal. Yang akan dikemukakan disini adalah peranan yang dianggap paling dominan dan diklasifikasikan sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
Menurut Moh. Uzer Usman, peranguru di bagi beberapa macam, diantaranya:
1) Guru Sebagai Demonstrator (Pendidik)
2) Guru Sebagai Pengelola Kelas
3) Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
4) Guru Sebagai Evaluator
E. Mulyasa, dalam bukunya “Menjadi Guru Profesional” mengatakan bahwa diantara tugas guru yang utama dalam pembelajaran adalah:
a. Guru Sebagai Pendidik
b. Guru Sebagai Pengajar
c. Guru Sebagai Pembimbing
d. Guru Sebagai Evaluator
Dr. Wina Sanjaya, M.Pd, menjelaskan bahwa agar proses pengajaran menjadi optimal, maka peranan guru diantaranya, yaitu:
1) Guru Sebagai Sumber Belajar
2) Guru Sebagai Fasilitator
3) Guru Sebagai Pengelola
4) Guru Sebagai Demonstrator
5) Guru Sebagai Pembimbing
6) Guru sebagai Motivator
7) Guru sebagai Evaluator
Seorang guru hendaknya harus memiliki kemampuan dan terampil dalam melaksanakan penilaian, karena dengan penilaian guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai siswa setelah melaksanakan proses belajar, dan denganpenilaian juga dapat memotivasi seorang guru untuk mengajar lebih maksimal.
b. Tugas Guru
Salah satu faktor yang paling menentukan dalam proses pembelajaran di kelas adalah guru. Tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar guru merupakan peranan aktif (medium) antara peserta didik dengan ilmu pengetahuan. Secara umum dapat dikatakan bahwa tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh guru adalah mengajak orang lain berbuat baik. Tugas tersebut identic dengan dakwah Islamiyah yang bertujuan mengajak umat Islam untuk berbuat baik.
Guru agama tidak hanya bertugas melaksanakan pendidikan Agama dengan baik, akan tetapi guru agama juga harus bisa memperbaiki pendidikan agama yang terlanjur salah diterima oleh anak didik, baik dalamkeluarga, dan pembinaan kembali terhadap pribadi yang baik. Uzer Usman menjelaskan beberapa tugas guru diantaranya:
a) Tugas Profesional
Tugas profesional yaitu tugas yang berkenaan dengan profesi tugas guru, yang meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengambangkan nilai-nilai hidup. Lebih lanjut ia menjelaskan mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengatahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa, dalam hal ini guru berprofesi untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik maka seorang guru hendaknya memahami segala aspek pribadi anak didiknya, baik segi jasmani maupun segi rohani. Guru hendaknya menganal dan memahami tingkat perkembangan anak didik.
Di samping memahami siswa, guru juga harus mengenal dan memahami dirinya, agar terhindar dari konflik yang berhubungan dengan tugasnya seperti frustasi dan ketidakmampuan menyesuaikan dirinya, sehingga ia dapat memahami dan membantu siswa dengan sebaik-baiknya.
b) Tugas kemanusiaan
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada para siswanya. Para siswa enggan menghadapi guru yang tidak menarik (rapih).
c) Tugas kemasyarakatan
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya, karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban untuk mencerdaskan kemajuan masyarakat dan bangsa ini, dengan kata lain bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Yang menjadi populasi adalah siswa VII SMP Negeri 2 Purwokerto yang berjumlah 281 siswa. Mengingat waktu dan keterbatasan yang ada pada penulis, maka penelitian ini menggunakan sampel. Metode pengambilan sampel yang dipakai pada penelitian ini merupakan gabungan dari teknik random sampling dan cluster sampling (sampel berkelompok), dan teknik random sampling yang digunakan adalah dengan cara undian. Adapu sampel pada penelitian ini yaitu perwakilan dari siswa kelas VII SMP Negeri 2 Purwokerto, menurut Suharsimi Arikunto (2010: 112) jika subyek yang diteliti cukup besar (lebih dari 100) dapat diambil 10-15%, 20-25% atau lebih, dan yang diambil sebagai sampel adalah 15% dari jumlah seluruh populasi. Jadi, jumlah siswa yang berkesempatan menjadi subyek penelitian dibulatkan menjadi 42 siswa, yang merupakan perwakilan dari 9 kelas. Penelitian ini menggunakan dua cara dalam mengumpulkan data selama proses penelitian, yaitu observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan aplikasi perangkat lunak SPSS versi 21. Yaitu teknik analisis statistik dengan rumus korelasi product moment, yang kemudian nilai pengaruh yang diperoleh dibandingkan dengan “r” table product moment untuk mengetahui apakah pengaruh yang diperoleh signifikan atau tidak.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kels VII di SMP Negeri 2 Purwokerto tahun pelajaran 2018/2019 dapat diambil kesimpulan bahwa hasil perhitungan dengan aplikasi SPSS versi 21, perolehan “r” hitung product moment sebesar 0,648 dan Pvalue sebesar 0,01. Nilai “r” tabel untuk df = 40 pada taraf signifikan 5% adalah 0,312 dan pada taraf 1% adalah 0,403. Alpha () yang digunakan adalah 5% = 0,05. Hipotesis alternative diterima karena dua alasan. Alasan pertama, yaitu pada taraf signifikan 5% r hitung > r table (0,648 > 0,312), dan pada taraf signifikan 1% r hitung > r tabel (0,648 > 0,403). Alasan kedua, karena P-value lebih kecil dari nilai alpha () yaitu 0,01 < 0,05. Jadi, ada pengaruh positif yang signifikan antara kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Purwokerto tahun pelajaran 2018/2019.
PENUTUP
Mengajarkan ajaran-ajaran agama islam serta mampu mendororong peserta didik untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui bermacam-macam sumber dan media, Menciptakan suasana belajar yang menarikperhatian peserta didik, menyampaikan materi sesuai dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik dan Melatih peserta didik untuk meningkatkan kecerdasan emosional sehingga ada pengaruh positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan hasil belajar pendidikan agama islam.
www.jurnal.umpar.ac.id // Pengaruh Guru Pendidikan
Agama Islam Terhadap Kecerdasan Emosional.
(diakses 16 Januari 2021)
DAFTAR PUSTAKA
www.digital.library.ump.ac.id //Pengaruh Kecerdasan Emosional (EQ) Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII di Smp Negeri 2 Purwokerto
(Diakses pada 16 Januari 2020)
www.core.ac.uk // upaya guru PAI dalam peningkatkan kecerdasan emosional
(Diakses pada 16 Januari 2020)
www.jurnal.umpar.ac.id // Pengaruh Guru Pendidikan
Agama Islam Terhadap Kecerdasan Emosional.
(diakses 16 Januari 2021)
www.dspace.uii.ac.id // Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar
(Diakses pada 16 Januari 2020)
www.media.neliti.com // kecerdasan emosional dalam pendidikan islam
(Diakses pada 16 Januari 2020)
Comments
Post a Comment