EMOTIONAL INTELLEGENT

Apa itu kecerdasan emosi? Menurut Wikipedia, Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.
Mengapa begitu penting? Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, masihkah berharap bahwa keputusan dan tindakan kita juga baik?
Dari berbagai literatur, saya
menemukan ada 5 dasar kecerdasan emosional. Kelima dasar itu adalah
1. Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam
hidup Anda.
2. Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi
negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.
3. Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.
4. Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang
mereka rasakan.
5. Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi
yang tersirat
SUMBER :https://personalityratiih.wordpress.com/materi-2/
Buku Daniel Goleman: Why It Can Matter More Than IQ (Sumber: bloomsbury.com)
Model Kecerdasan Emosional
Menurut
The Encyclopedia of Applied Psychology (dalam Chandra, 2010) terdapat tiga
model kecerdasan emosional, yaitu:
a. The Salovey-Mayer Model
Kemampuan
yang utama dalam model ini adalah kemampuan untuk merasakan, memahami,
mengelola, dan menggunakan emosi untuk menjembatani pemikiran yang diukur
dengan ukuran yang didasarkan pada kemampuan.
b. The Goleman Model
Model
Goleman merupakan kesatuan antara berbagai macam kompetensi dan keterampilan
yang merangsang kemampuan manajeral dan diukur menggunakan penilaian nilai
ganda.
c. The Bar-On Model
Merupakan perpaduan antara kompetensi, keterampilan, dan fasilitator yang mempengaruhi perilaku cerdas yang dikur berdasarkan laporan diri dalam suatu pendekatan multi modal, termasuk wawancara dan penilaian nilai ganda.
Kecerdasan emosional pada saat ini menjadi perhatian tersendiri dari para ahli dan praktisi pendidikan, karena kecerdasan emosional juga diyakini sebagai salah satu faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pembelajaran, disamping IQ. Perbedaan tingkat kecerdasan emosional siswa, diyakini sangat berpengaruh terhadap perbedaan siswa dalam cara memecahkan permasalahan dalam belajar, terutama yang menyangkut tentang permasalahan dalam pengendalian diri, semangat, ketekunan, serta kemampuan dalam memotivasi diri sendiri. Dapat dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosional siswa berpengaruh dominan terhadap kondisi siswa dalam belajar.
Mayer (2001: 33) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai sekelompok kemampuan mental yang membantu anda mengenali dan memahami perasaan-perasaan anda dan perasaan orang lain, yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan anda. Ada dua sisi kecerdasan emosional yaitu memerlukan kepandaian anda untuk memahami emosi, dan memerlukan pikiran emosional (perasaan) anda untuk menambahkan kreativitas dan intuisi pada pikiran logis anda.
Goleman (1995: 214) kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkannya (the appropriateness of emotion and itsexpression) melalui keterampilan kesadaran diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Apabila individu mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi, maka akan melahirkan kepekaan sosial yang tinggi, dan memiliki kemampuan menyesuaikan diri dalam segala bentuk kondisi.
Tidak banyak sekolah yang mencoba untuk melakukan tes kecerdasan emosional pada mahasiswanya. Banyak sekolah yang hanya terfokus mengukur intelligence mahasiswa, sedangkan pengukuran terhadap kecerdasan emosional mahasiswa sering diabaikan .
Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh kecerdasan emosional mahasiswa terhadap hasil belajar mata kuliah statistik dasar pada mahasiswa semester 6 program studi sarjana pendidikan ekonomi di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Panca Sakti.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey Kelinger dalam Sugiyono (2013: 80) menyatakan bahwa ”Survey research Studies large and small population (or unveses) by selection and studying samples chosen from the population to discover the relative incident, and distribution, and interrelation of sociological and psyychological variables”.
Penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data yang diambil dari sampelpopulasi tersebut, untuk menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan hubungan antara variabel sosiologis maupun psikologis.
Christensen (2006: 103) dalam buku psikologi eksperimen mendefinisikan desain penelitian adalah rencana atau strategi yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian.
Pada penelitian ini menggunakan konstelasi penelitian sebagai berikut:
Keterangan:
Y = Hasil Belajar Mata Kuliah Statistik Dasar
Kadir (2010: 15) Mengumpulkan data berarti mencatat peristiwa, karakteristik, elemen, nilai suatu variabel. Hasil pencatatan ini menghasilkan data mentah yang kegunaannya masih terbatas. Agar data yang kita peroleh memiliki validitas yang tinggi maka perlu dikembangkan instrumen pengumpul data yang juga valid. Sehingga data yang diperoleh dapat menggambarkan keadaan atau kenyataan sesungguhnya.
Instrumen merupakan alat untuk mengukur tentang sesuatu yang diukur.
Terdapat dua instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Instrumen hasil belajar.
2. Instrumen kecerdasan emosional.
Instrumen Hasil Belajar Mata Kuliah Statistik Dasar
a. Definisi Konsep
Hasil belajar mata kuliah statistik dasar adalah perubahan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah statistik dasar dalam bentuk angka (skor) yang diperoleh dari hasil evaluasi, melalui penggunaan instrumen hasil belajar mata kuliah statistik dasar.
b. Definisi operasional
Instrumen hasil belajar mata kuliah statistik dasar adalah skor tes dalam bentuk soal essay buatan dosen, yang telah di ujikan kepada sampel, sehingga didapatkan hasil belajar mata kuliah statistik dasar, yang digunakan sebagai ukuran keberhasilan belajar mata kuliah statistik dasar.
c. Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar mata kuliah statistik dasar
Instrumen variabel hasil belajar mata kuliah statistik dasar dilakukan dengan cara menyusun tes yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu pada materi deskripsi data, uji prasyarat uji normalitas dan homogenitas dan uji hipotesis penelitian.
Instrumen Kecerdasan Emosional
a. Definisi konseptual kecerdasan emosional
Kecerdasan emosional adalah emotional intelegence atau kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seorang yang berpengaruh terhadap perilaku dan aktivitas orang tersebut dalam suatu bidang yang menyangkut tentang kesadaran diri, pengendalian diri, memotivasi diri, empati, keterampilan sosial atau kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
b. Definisi Operasional Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional dalam penelitian ini adalah skor kecerdasan emosional yang diperoleh oleh mahasiswa yang diukur dengan menggunakan Skala Likert dengan dengan jumlah butir 38 dan skor yang digunakan dimulai dari 5 (lima) sampai dengan 1 (satu) berdasarkan gradasi jawaban, dan sebaliknya untuk peryataan negatif diberi skor 1 (satu) sampai dengan 5 (lima). Dengan demikian dari 38 butir peryataan dalam instrumen kecerdasan emosional, mempunyai rentang skor teoritis antara 38 sampai dengan 190. Pengukuran merupakan proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis.
Saifuddin Anwar. (2010: 3) Sebagai alat ukur, skala psikologi memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari berbagai bentuk alat pengumpulan data yang lain seperti angket (questionnaire), daftar isian, inventori, dan lain-lainnya. Meskipun dalam percakapan sehari-hari biasanya istilah skala disamakan saja dengan istilah tes namun dalam pengembangan instrumen ukur umumnya istilah tes digunakan untuk penyebutan alat ukur kemampuan kognitif sedangkan istilah skala lebih banyak dipakai untuk menamakan alat ukur aspek afektif.
Pengukuran kecerdasan emosional dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional mahasiswa yang dibedakan dengan kategorisasi kecerdasan emosional tinggi, dan kecerdasan emosional rendah. Alternatif jawaban terdiri dari lima pilihan sikap, yang telah disesuaikan dengan butir-butir peryataan yaitu, SS (sangat setuju), S (setuju), CS (cukup setuju), TS (tidak setuju), STS (sangat tidak setuju)
c. Kisi-Kisi Instrumen Kecerdasan Emosional
Kisi-kisi instrumen kecerdasan emosional, dirancang berdasarkan pada ranah utama kecerdasan emosional menurut Goleman, menurut Goleman kecerdasan emosional terdiri dari dua dimensi yaitu kecakapan pribadi dan kecakapan sosial kecakapan pribadi terdiri dari tiga indikator untuk kecakapan sosial terdiri dari dua indikator yaitu :
tiga indikator untuk kecakapan sosial terdiri dari dua indikator yaitu :
1) Kecakapan Pribadi
Kecakapan pribadi terdiri dari tiga indikator meliputi:
a) Kesadaran diri
b) Pengendalian diri
c) Memotivasi diri
2) Kecakapan Sosial
Kecakapan sosial terdiri dari dua indikator meliputi:
a) Empati
b) Keterampilan social
jadi, Pengertian kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
terimakasih semoga bermanfaat
Anjani MW
Comments
Post a Comment